24
Jan
09

Bohemian Rhapsody

Salah satu Legenda musik QUEEN menciptakan lagu ini di tahun 80-an dan menjadi salah satu lagu dengan tingkat musikalitas dan kesulitan paling tinggi yang pernah saya dengar.

that’s really great song..

(Mercury)
Is this the real life?
Is this just fantasy?
Caught in a landslide,
No escape from reality
Open your eyes, Look up to the skies and see,
I’m just a poor boy, I need no sympathy,
Because I’m easy come, easy go, Little high, little low,
Any way the wind blows doesn’t really matter to me, to me
Mama just killed a man,
Put a gun against his head, pulled my trigger, now he’s dead
Mama, life had just begun,
But now I’ve gone and thrown it all away
Mama, ooh, Didn’t mean to make you cry,
If I’m not back again this time tomorrow,
Carry on, carry on as if nothing really matters
Too late, my time has come,
Sends shivers down my spine, body’s aching all the time
Goodbye, ev’rybody, I’ve got to go,
Gotta leave you all behind and face the truth
Mama, ooh, I don’t want to die,
I sometimes wish I’d never been born at all
I see a little silhouetto of a man,
Scaramouche, Scaramouche, will you do the Fandango
Thunderbolt and lightning, very, very fright’ning me
(Galileo) Galileo (Galileo) Galileo, Galileo figaro
Magnifico I’m just a poor boy and nobody loves me
He’s just a poor boy from a poor family,
Spare him his life from this monstrosity
Easy come, easy go, will you let me go
Bismillah! No, we will not let you go
(Let him go!) Bismillah! We will not let you go
(Let him go!) Bismillah! We will not let you go
(Let me go) Will not let you go
(Let me go) Will not let you go (Let me go) Ah
No, no, no, no, no, no, no
(Oh mama mia, mama mia) Mama mia, let me go
Beelzebub has a devil put aside for me, for me, for me
So you think you can stone me and spit in my eye
So you think you can love me and leave me to die
Oh, baby, can’t do this to me, baby,
Just gotta get out, just gotta get right outta here
Nothing really matters, Anyone can see,
Nothing really matters,
Nothing really matters to me
Any way the wind blows

19
Jan
09

KAKA, di Persimpangan

Mayoritas media-media di Italia dan Inggris sibuk membicarakan rencana Mega-Transfer Kaka, pemain terbaik dunia 2007.
Setelah tifosi Milan melontarkan penolakannya atas rencana tersebut, beberapa pelatih team Serie A, Liga Italia mulai membuka suara. Berikut beberapa petikan komentar seperti yg disadur dari situs Goal.com

Jose Mourinho (Inter Milan)

“Sejak saya bekerja di Liga Italia, saya ingin melihat pemain-pemain terbaik bertahan. Tapi ini kehidupan Kaka. Dia pemain Milan dan mereka harus memutuskan.”

Claudio Ranieri (Juventus)

“Sangat buruk untuk liga kami, dan Milan akan menjadi tim yang berbeda tanpa Kaka. Tapi lihat saja, siapa yang akan mereka beli kalau Kaka hengkang. Juventus pernah mengalami keadaan serupa dengan Roberto Baggio dan Zinedine Zidane. Carlo Ancelotti sebelumnya telah menunjukkan bahwa dia seorang master dalam hal mengatasi situasi-situasi seperti ini.”

Delio Rossi (Lazio)

“Tawaran yang sulit ditolak. Ketika sebuah klub mendapatkan sebuah penawaran seperti itu, mereka semestinya berpikir lebih dari dua kali. Sekarang terserah si pemain, karena klub tak bisa menolak penawaran seperti itu.”

Luciano Spalletti (AS Roma)

“Situasi yang sulit. Milan salah satu klub terkaya di dunia, tapi saya pikir keinginan Kaka sangat menentukan. Ada masalah lain: Kalau Anda memutuskan menahan si pemain di harga seperti itu, apa yang akan Anda katakan pada pemain-pemain lain? Apakah Anda mulai menggaji mereka lebih besar lagi?”

Davide Ballardini (Palermo)

“Uang bukan urusan. Ini soal pilihan dalam hidup. Sejujurnya, saya pikir ini soal yang absurd. Moralitas dalam sepakbola semakin kecil saja di masa kini. Mulai lenyap. Sepertinya rasa tak tahu malu bukanlah hal yang buruk lagi. Tapi kalau Milan ditawari sebesar itu, saya pikir mereka akan menjual Kaka. Uang sebanyak itu bisa untuk membangun sebuah tim yang luar biasa.”

Walter Zenga (Catania)

“Kalau proposal seperti itu disodorkan untuk salah satu dari pemain kami, saya sendiri yang akan memanggul dia di pundak saya. Kita membicarakan hal-hal yang memalukan. Bagaimana bisa Anda mengomentari hal seperti itu?”

Komentar Saya :
Meskipun berat melihat Kaka pergi ke klub lain, tapi saya harus menghargai setiap keputusan yang dibuatnya karena ia memiliki kehidupannya sendiri. Lagian siapa yang berani nolak uang 100 juta pund hanya untuk satu pemain??

19
Jan
09

KAKA, di Persimpangan

Mayoritas media-media di Italia dan Inggris sibuk membicarakan rencana Mega-Transfer Kaka, pemain terbaik dunia 2007.
Setelah tifosi Milan melontarkan penolakannya atas rencana tersebut, beberapa pelatih team Serie A, Liga Italia mulai membuka suara. Berikut beberapa petikan komentar seperti yg disadur dari situs Goal.com

Jose Mourinho (Inter Milan)

“Sejak saya bekerja di Liga Italia, saya ingin melihat pemain-pemain terbaik bertahan. Tapi ini kehidupan Kaka. Dia pemain Milan dan mereka harus memutuskan.”

Claudio Ranieri (Juventus)

“Sangat buruk untuk liga kami, dan Milan akan menjadi tim yang berbeda tanpa Kaka. Tapi lihat saja, siapa yang akan mereka beli kalau Kaka hengkang. Juventus pernah mengalami keadaan serupa dengan Roberto Baggio dan Zinedine Zidane. Carlo Ancelotti sebelumnya telah menunjukkan bahwa dia seorang master dalam hal mengatasi situasi-situasi seperti ini.”

Delio Rossi (Lazio)

“Tawaran yang sulit ditolak. Ketika sebuah klub mendapatkan sebuah penawaran seperti itu, mereka semestinya berpikir lebih dari dua kali. Sekarang terserah si pemain, karena klub tak bisa menolak penawaran seperti itu.”

Luciano Spalletti (AS Roma)

“Situasi yang sulit. Milan salah satu klub terkaya di dunia, tapi saya pikir keinginan Kaka sangat menentukan. Ada masalah lain: Kalau Anda memutuskan menahan si pemain di harga seperti itu, apa yang akan Anda katakan pada pemain-pemain lain? Apakah Anda mulai menggaji mereka lebih besar lagi?”

Davide Ballardini (Palermo)

“Uang bukan urusan. Ini soal pilihan dalam hidup. Sejujurnya, saya pikir ini soal yang absurd. Moralitas dalam sepakbola semakin kecil saja di masa kini. Mulai lenyap. Sepertinya rasa tak tahu malu bukanlah hal yang buruk lagi. Tapi kalau Milan ditawari sebesar itu, saya pikir mereka akan menjual Kaka. Uang sebanyak itu bisa untuk membangun sebuah tim yang luar biasa.”

Walter Zenga (Catania)

“Kalau proposal seperti itu disodorkan untuk salah satu dari pemain kami, saya sendiri yang akan memanggul dia di pundak saya. Kita membicarakan hal-hal yang memalukan. Bagaimana bisa Anda mengomentari hal seperti itu?”

Komentar Saya :
Meskipun berat melihat Kaka pergi ke klub lain, tapi saya harus menghargai setiap keputusan yang dibuatnya karena ia memiliki kehidupannya sendiri. Lagian siapa yang berani nolak uang 100 juta pund hanya untuk satu pemain??

07
Jan
09

Milan in Dubai

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Tur musim dingin sering dilewatkan oleh sebagian besar klub di eropa untuk melakukan pemusatan latihan di negara lain. Ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh klub-klub eropa dengan latihan di negeri seberang ini, diantaranya suasana yang berbeda (biasanya iklim yang dipilih panas), kekompakan team lebih baik, sekaligus juga berlibur di pusat wisata setempat.

Bagaimana dengan AC Milan?

Musim dingin ini, Milan menghabiskan masa pemusatan latihan selama kurang lebih 1 minggu di Dubai, UEA. Dengan cuaca yang cukup panas di siang hari, tak heran bila para pemain Milan hanya mengunakan baju tanpa lengan sebagai seragam training.

Patut dinantikan bagaimana David Beckham bisa langsung nyetel dengan rekan-rekan setim yang baru dan apakah sepulang dari Dubai ia bisa langsung diturunkan oleh Carlo Ancelotti dalam Starting line up pada saat bertandang ke kandang AS Roma, Minggu, 11 Januari 2009.

Prediksi saya, Milan menang dengan skor tipis 2-1

Bravo Milan….!!!!!

07
Jan
09

Leadership Needs Your Focus

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Senin, 29 Desember 2008..

Malam sekitar jam 10 an lebih saya mulai ngopi-ngopi dengan Destra (salah seorang sahabat baik saya) di sebuah kedai kopi di Jl Kaliurang. Kalau ga salah namanya “Coffea Break”

Critanya tahun ini sudah akan berakhir, cuma tinggal 2 hari lagi.. Saya mulai mengingat-ngingat kejadian selama 2008 yang lalu. Diantara 12 bulan yang sudah lewat, Desember ini menjadi bulan yang paling sulit yang kualami selama 1 tahun. Kenapa ya….? Khususnya di tempat kerja, sepertinya banyak hal yang kurang menyenangkan terjadi, dimulai dari semangat kerja yang turun, performance team yang anjlok, dll.

Saya mulai mencari-cari alasan, apa yang sedang terjadi dan ketemulah satu jawaban penting yaitu : Leadership need your focus.

Dalam sebuah tulisannya, Lee Iaocca, mantan CEO legendaris Daimler Chrysler mengatakan “Leadership Needs Your Present”. Kepemimpinan membutuhkan kehadiran dan keikutsertaan.

Apakah saya suka membolos??Hahaha.. tentu saja tidak!

Kehadiran mengkonfirmasi bahwa pemimpin ada di sekitar orang yang dipimpinnya untuk memberikan support yang berarti buat mereka, bilamana diperlukan, dan tentu saja sangat diperlukan.

Hubungannya dengan Fokus?

Ketiadaan fokus, atau mungkin lebih baik saya katakan kekurangan fokus, pada apa yang sedang dikerjakan akan serta merta mengurangi kehadiran seorang pemimpin. Ilustrasinya begini, ketika saya kehilangan fokus terhadap pekerjaan, hari-hari di kantor berlalu dengan begitu saja, nothing special.. everything’s gone just like usual. Pekerjaan menjadi sesuatu hal yang membosankan, dan terkadang menjemukan. Kita jadi pengen cepat-cepat pulang, pengen cepat-cepat weekend, dll.

Kekurangan fokus akan mengurangi kehadiran dan keikutsertaan pemimpin, meskipun phisically dia ada di ruangannya.

Sebagai kesimpulan, untuk menjadi pemimpin yang lebih efektif, curahkan fokus yang cukup untuk pekerjaan yang sedang anda geluti. Ketika pekerjaan sudah terasa agak membosankan, mulailah berdiam diri, ambil waktu untuk “mundur” sejenak dan set up kembali fokus dan semangat kerja anda.

05
Jan
09

Let’s Make Something Different Tomorrow

(Sebuah perenungan selama 4 tahun pelayanan di PMKT)

preview :  artikel ini kutulis sekitar April 2006, beberapa bulan setelah menyelesaikan 4 tahun pelayanan yang penuh cerita. Harus diakui setelah kubaca-baca lagi, aku rada-rada ngeri juga melihat beberapa paragraf yg cukup tajam mengkoreksi beberapa aktifitas yg “lumrah” dilakukan pengurus-pengurus. ehm.. pada akhirnya ini hanya sekedar opini belaka

Dalam banyak kesempatan, saya sudah melihat banyak kejadian-kejadian yang menarik seputar persekutuan ini. Dimulai dari kisah pertemuan awal saya dengan PMKT dalam sebuah persekutuan umum sampai saat ini ketika saya mengakhiri masa pelayanan saya yang cukup panjang. Dalam rentang waktu tersebut saya mendapati bahwa PMKT senantiasa rindu untuk bertumbuh dan mengusahakan pertumbuhan bagi setiap orang yang bergelut di dalamnya.

Dalam hal ini, saya hanya akan meninjau tentang visi persekutuan yang imbasnya nanti akan mencakup pada keseluruhan dari apa yang selama ini dilakukan PMKT dalam pelayanannya.

Visi yang baik adalah suatu bentuk visi yang tidak mistis dan jauh di atas awang-awang sehingga tidak lagi bisa diinterpretasikan secara jelas bentuk konkretnya. Sebuah visi harus dapat diterjemahkan ke dalam bentuk strategi-strategi praktis dalam upaya pencapaiannya.

Visi PMKT adalah “Memenangkan, membina dan mempersiapkan mahasiswa kristiani teknik UGM agar menjadi sarjana-sarjana bagi Gereja, Bangsa dan Negara sesuai dengan profesi keteknikan” Sebuah pernyataan visi yang sederhana namun mengandung sarat makna teologis dan sangat menantang untuk terus-menerus dikerjakan setiap saat oleh PMKT. Visi bersama ini sudah dianut selama kurang lebih 25 tahun berdirinya PMKT dan sampai saat ini masih dianggap sangat relevan meski zaman senantiasa berubah setiap detiknya, sehingga kalau ditanya tentang relevansi antara visi PMKT dengan kondisi actual yang dihadapi sekarang atau yang mungkin (terbayang) akan terjadi ke depan, maka saya akan dengan tegas mengatakan bahwa visi PMKT masih sangat up to date dan tidak basi atau ketinggalan zaman untuk tetap diupayakan kelestariannya.

Masalah yang terjadi bukan terletak pada pernyataan visi tetapi pada cara interpretasi (gambaran masa depannya) dan penerjemahan visi tersebut ke dalam bentuk rencana-rencana strategis yang real.

Kalau kita selidiki lebih lanjut, seringkali kita berhenti pada pernyataan “memenangkan, membina dan mempersiapkan” dari visi PMKT dan kurang memperhatikan phrase “sarjana bagi Gereja, Bangsa dan Negara sesuai dengan profesi keteknikan”. Tiga kata pertama dalam visi PMKT menjelaskan tentang apa yang harus dikerjakan, dan frase selanjutnya menjelaskan bentuk real dari kondisi ideal dari pencapaian visi tersebut yang menjadi gambaran dari keberhasilan PMKT dalam mengerjakan visinya. Jadi, inti dari pernyataan visi itu sendiri terdapat pada frase “sarjana-sarjana bagi Gereja, Bangsa dan Negara sesuai dengan profesi keteknikan” tentunya dengan tidak mengabaikan tiga kata “memenangkan, membina dan mempersiapkan” sebagai bagian yang harus dikerjakan dalam upaya pencapaian visi tersebut.

Kalau frase terakhir menjadi sasaran yang hendak dicapai, pertanyaan yang harus dijawab adalah profil sarjana (alumni) yang bagaimanakah yang akan dihasilkan oleh pelayanan PMKT sehingga gambaran visi tersebut menjadi semakin jelas dan mudah dipahami? Saya berupaya merumuskan beberapa karakteristik sarjana/alumni (dengan bantuan beberapa sumber) yang menjadi sasaran dari visi PMKT sebagai berikut:

  1. Aspek Spiritual/Iman Kristiani

    • Kerohanian yang baik (pemahaman terhadap iman Kristen, personal spiritual life, fellowship spiritual life)

    • Hati yang melayani (mengabdi) sesuai dengan profesi dan lingkungannya

    • Pribadi yang dewasa rohani dalam pemecahan masalah-masalah keluarga, profesi dan masyarakat (growing nature)

    • Resource bagi pelayanan Gereja dan pelayanan Kristen lainnya (pemimpin yang trainable, pembina, pengajar, aktivis, penggerak, narasumber, fasilitator, networking)

  2. Aspek Mental/Intelektual

    • Memiliki pengetahuan yang luas terhadap berbagai isu dan tantangan di lingkungan Gereja, masyarakat, profesi, Bangsa bahkan dunia

    • Memiliki “vision” dalam kehidupan pribadi, keluarga dan pelayanan

    • Memiliki pemikiran yang kritis terhadap berbagai isu yang dihadapi di dunia alumni

    • Alumni yang selalu belajar dan mengembangkan diri dalam berbagai aspek

    • Alumni yang mampu mengembangkan kerjasama dan memiliki kemapuan relasional yang baik

  3. Aspek Karakter/Etos Kerja

    • memiliki integritas dalm keluarga, profesi, Gereja dan masyarakat

    • Memiliki kepribadian yang tangguh (tahan terhadap masalah, ideology, paham yang mengancam kehidupannya)

    • Memiliki etos kerja yang baik (kerja keras, pengabdian, norma, moral, etika) dalam berbagai profesi di masyarakat

    • Memiliki karakter yang “kuat” dan “mempengaruhi” bukan “dipengaruhi” dan “menjadi pengikut”.

    • Memiliki cara berpikir yang kritis dan etikal dalam menyelesaika berbagai persoalan

  4. Keterlibatan Sosial

    • Memiliki kepekaan terhadap kondisi masyarakat, Bangsa dan Negara

    • Menjadi bagian dalam pemecahan masalah Bangsa (kemiskinan, keadilan, moral etika, kesejahteraan, dll)

    • Alumni terlibat dalam pemecahan masalah social dengan menjadi : pemikir, penulis, penggerak ide, komunikator, katalisator, negosiator, networking (melalui profesi, lembaga pelayanan, lembaga swadaya masyarakat, institusi Negara) baik di lingkungan local maupun nasional

    • Alumni menjadi pelopor dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan memiliki wawasan kesatuan Bangsa.

Dengan berbagai atribut di atas, dapat dimengerti bahwa visi PMKT merupakan salah satu bentuk visi yang sangat luas maknanya dan sangat menantang untuk dicapai oleh setiap individu yang terlibat dalam pelayanan ini. Ditambah lagi visi tersebut merupakan pengejawantahan secara praktis dari amanat agung Tuhan Yesus yang ada di Matius 28:19-20. jadi, kalau berbicara tentang visinya, sudah sepatutnya kita berbangga hati dengan visi yang ada sampai saat ini karena nila-nilai yang dikandung di dalamnya bersifat kekal.

Seperti yang saya sebutkan di atas, masalahnya bukan terletak pada pernyataan visinya tetapi pada interpretasi terhadap visi tersebut dan penerjemahannya ke dalam bentuk strategi-strategi praktis yang mungkin kurang tepat. Ketidaktepatan dalam penyusunan strategi ini mengakibatkan banyak sekali tenaga dan resource yang terbuang “percuma” untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu esensial dan kena-mengena dengan visi presekutuan. Terkadang agak sulit membedakan mana yang baik dan mana yang benar-benar perlu untuk dikerjakan karena kalau ditinjau lebih lanjut apa yang dilakukan pengurus PMKT selama ini pada dasarnya baik namun menurut saya tidak semuanya perlu untuk dilakukan karena memang kurang tepat pada sasaran yang dikehendaki menurut visi. Satu kata yang penting disini adalah “prioritas” yang bisa diartikan mendahulukan sesuatu dibandingkan dengan yang lain sesuai dengan kadar kepentingan dan urgensinya. Dengan kata lain, kita bisa melakukan semuanya tapi dengan penempatan prioritas yang benar, tidak asal melakukan dan yang penting selesai.

Sebagai contoh, mari kita lihat dua kegiatan rutin yang dilakukan di PMKT, yaitu pendanaan (berupa bazaar, jualan pakaian) dan kunjungan kasih. Ditinjau dari segi keterkaitannya dengan visi PMKT, maka dengan bulat saya mengatakan kunjungan kasih harus mendapat prioritas yang lebih banyak dibandingkan dengan pendanaan sehingga alokasi waktu dan sumberdaya seharusnya diprioritaskan untuk melaksanakan kegiatan kunjungan kasih ke kost-kostan. Apakah pendanaan penting? Ya, tentu saja pendanaan penting, karena pelayanan juga membutuhkan uang, tapi dalam hal ini, kegiatan pendanaan harus mendapat prioritas berikutnya setelah kunjungan, atau dengan kata lain, kita bisa saja membatalkan kegiatan pendanaan untuk suatu hari tertentu karena ada kegiatan kunjungan yang mungkin melibatkan orang-orang yang sama. Jadi darimana dana buat kegiatan persekutuan kalau pendanaan dicancel? Ya.. tentunya kita harus bisa bersikap bijak dan mencoba untuk mengatur jadwal sedemikian rupa sehingga semuanya bisa dikelola dengan baik. Dalam hal ini kesadaran pengurus untuk berdisiplin dalam memberikan persembahan iman dan dukungan alumni sangat erat kaitannya, karena kalau kedua hal di atas bisa berjalan seimbang, niscaya pelayanan ini tidak akan berkekurangan.

Solusi di atas, yaitu mengatur semua kegiatan sedemikian rupa sehingga bisa dikerjakan dengan baik ternyata juga tidak menyelesaikan persoalan. Harus diakui bahwa aktifitas pengurus di PMKT sudah sangat banyak, terlebih lagi buat pengurus-pengurus senior (KSB, KPPA, Kombin) dan coordinator komisi yang sepertinya tiada hari tanpa kegiatan di secretariat. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah rapat-rapat yang melibatkan pengurus (senior) yang sungguh sangat banyak! Saya pernah menghitung untuk satu orang KPPA yang harus mengikuti rapat koordinatorium, rapat komisi, rapat pendampingan, rapat regenerasi, rapat pendampingan panitia (bila perlu) jumlahnya bisa kurang lebih 100 kali rapat untuk satu tahun pelayanan! Setiap kali rapat biasanya memakan waktu 2 jam, sehingga kalau dikalikan waktu yang digunakan seorang anggota KPPA hanya untuk rapat sekitar 200 jam tiap tahunnya. Hal ini belum ditambah kegiatan-kegiatan lain seperti, kunjungan, PU dan PD, pelaksanaan program, pendanaan, dan yang terutama KTB besar dan kecil masing-masing. Luar biasa!

Saya percaya bahwa semua kegiatan di atas bisa dilakukan, tentunya dengan komitmen yang tidak setengah-setengah dan militansi serta semangat pelayanan yang penuh, pasti bisa. Hanya saja kalau direnungkan lebih lanjut, waktu-waktu yang “terbuang” buat rapat menjadi agak kurang berguna (tetap ada gunanya) dan apabila waktu tersebut bisa dialokasikan pada kegiatan yang sifatnya lebih membangun spritualitas dan mentalitas para pengurus sehingga mampu mempersiapkan para pengurus yang juga calon-calon alumni dengan bekal yang baik, maka nilai yang didapat dari 200 jam tersebut bisa sangat berbeda hasilnya.

Selain prioritas yang benar, kata yang tepat untuk mengatasi masalah yang terkait dengan visi ini adalah “focus”. Intinya adalah bagaimana para pengurus bisa mengarahkan semua kegiatan dan program persekutuan untuk mencapai visi persekutuan. Jika semua kegiatan bisa difokuskan pada arah yang benar, niscaya akan terjadi perubahan yang baik dalam persekutuan kita. Tantangannya adalah, ketika kita hendak menetapkan focus, di sekitar kita ada begitu banyak “tawaran” menarik yang sayang kalau ditinggalkan. Terkadang tawaran-tawaran tersebut menjadi lebih menarik dibandingkan dengan satu atau dua hal yang hendak difokuskan, sehingga semakin tawaran tersebut dipertimbangkan (karena memang baik), maka dengan sengaja kita pun berkata “Ah… bagaimana kalau hal ini kita lakukan saja, kan ga ada ruginya, justru akan menambah keberhasilan program komisi x”. Ketika hal ini terjadi, bisa dikatakan kita gagal dalam menjaga focus kita dan akhirnya pada saat evaluasi kita mendapati bahwa kita sudah melakukan banyak hal tapi kok sepertinya ga ada kemajuan dalam persekutuan kita?? Whats wrong?

Supaya mudah dicerna, saya hendak memberikan contoh (maaf kalau agak menyindir beberapa bidang di persekutuan kita) seperti ini. Katakanlah untuk periode tertentu, focus dan prioritas pelayanan PMKT adalah Pembinaan Kelompok Kecil (KTB), kemudian pengurus (rapat koordinatorium) mulai melakukan penyusunan program kerja satu tahun seperti biasanya. Di awal rapat semua sepakat bahwa focus pelayanan kita tahun ini adalah pembinaan kelompok kecil sehingga semua program tiap komisi akan diarahkan untuk mendukung pembinaan kelompok kecil ini. Ketika dilakukan brain storming, banyak pendapat yang muncul. KPU mengusulkan perlu mengadakan training MC karena kualitas MC sudah menurun, Tim Musik menawarkan training VG dan group musik yang akan latihan sekali seminggu untuk meningkatkan skill pemusik, dengan embel-embel sapa tahu juga bisa menjangkau teman-teman yang “alergi” dengan PU/PD. Kemudian muncul Komtek dengan usulan pemantapan kegiatan keteknikan dan aplikasi kegiatan keluar dan untuk yang satu ini harus didukung penuh oleh semua pengurus, baik dari segi waktu dan partisipasi pengurus, belum selesai, Kompuskom pengen membuat ST yang “lux” juga pengadaan seminar jurnalistik, Tim Dana butuh orang tiap minggu buat jualan dan bazaar, KPPA dianggap perlu melakukan penelitian kondisi, trus merancang system manajemen yang baru, dll. Selesai? Belum, ada berita dari KSB bahwa PMKT dapat undangan untuk ikut terlibat dalam kegiatan seminar besar oleh PMK(X), kalau bisa ikut berpartisipasilah pengurusnya. Ketika satu persatu program dibicarakan, semua pengurus menganggap bahwa semua usulan tersebut baik kalau dilaksanakan (dan pada dasarnya memang baik) dan akhirnya disepakati kita melakukan semuanya. Di awal semua sepakat dengan satu focus, di akhir rapat focus yang semula ada menjadi bias dengan banyak hal yang “baik” tersebut. Pengurus melakukan semuanya sepanjang satu tahun dan ketika evaluasi akhir kita pun menyadari kok sepertinya selama satu tahun ini tidak ada kemajuan berarti yang bisa kita capai, pembinaan tidak semakin baik, MC dan pemusik gitu-gitu aja, ST dan perpus juga biasa-biasa saja, kegiatan keteknikan juga ga mantap-mantap, ada system manajemen yang baru tapi juga ga efektif, dilakukan penelitian tapi kok kondisi mahasiswa Kristen begitu-begitu saja, ga ada yang berubah. Dengan kata lain kita berada pada titik stagnan, atau dengan bahasa yang lebih kasar sebenarnya kita tidak melakukan apa-apa yang sungguh berarti selama setahun.

Ada sebuah frase yang mengatakan “Jika seseorang tidak tahu kemana ia akan pergi, ia tidak akan kemana-mana”. Dengan kata lain, kalau kita tidak bisa memfokuskan pelayanan kita pada satu titik yang hendak kita tuju, pada dasarnya kita ga akan kemana-mana pada akhirnya. Tawaran-tawaran di sekitar kita memang sangat sayang kalau ditinggalkan, tapi kalau kita sudah commit dengan apa yang sudah kita prioritaskan, ada kalanya kita perlu menutup kedua belah mata kita pada tawaran-tawaran tersebut sehingga kita tidak terpengaruh untuk mulai memikirkan kemudian mempertimbangkan dan melakukannya.

Kita tahu bahwa pelayanan kita sudah diatur dalam pola yang sangat baik dengan GBHP sebagai penuntunnya. GBHP dengan sangat lugas menjelaskan tatanan-tatanan yang secara tradisional sudah berlaku sejak tahun 80an, demikian juga dengan target-target pelayanan selama 5 tahun sampai 2010. GBHP yang sekarang kita gunakan adalah produk tahun 2004-2005 yang dipikirkan oleh 30an orang pengurus PMKT ditambah Alm. Kak Obus dan dengan waktu yang sangat panjang (ditambah Raker 2 hari 1 malam di Kaliurang). Semua yang tertulis di GBHP beserta target-target jangka panjang untuk tiap tahunnya sudah dipikirkan dengan serius dan matang oleh peserta Raker, dan sudah diputuskan bahwa itulah sasaran pelayanan PMKT untuk 5 tahun ke depan.

Dengan produk GBHP yang sedemikian “bagus” itu, satu pertanyaan yang perlu kita ajukan adalah, “Apakah kita perlu mengutak-atik isi GBHP lagi?” Harus diakui bahwa inilah pertanyaan terberat yang harus dijawab oleh semua pengurus saat ini. Kalau sudah seperti ini, maka akan terdapat dua ekstrim dengan dua jawaban berbeda, kubu yang satu mengatakan, “Karena GBHP sudah dipikirkan dengan matang-matang, ngapain lagi sih kita coba-coba untuk mengubahnya?”. Kubu yang kedua mengatakan “Why not? GBHP kan bukan Alkitab yang mutlak harus dilakukan”! Bagaimana dengan pendapat Saudara sendiri?

Kenyataan yang terjadi selama ini bisa digambarkan sebagai berikut, setelah pengurus inti rembug dan berdikusi demikian lama, akhirnya lagi-lagi (dan lagi-lagi) kita harus mengakui keunggulan status quo sehingga kita pun tetap mengikuti pola yang sudah ada meskipun ada hal-hal yang mungkin tidak atau kurang relevan lagi untuk tetap dilaksanakan.

Saya menyadari bahwa dengan pola yang sudah begitu baik dan rapi yang biasa kita lakukan di PMKT selama ini (dan entah sampai kapan) membuat kita tidak lagi aware dengan realita yang terjadi dalam persekutuan. Kemapanan kita yang dibungkus dengan system manajemen dan organisasi yang sangat kuat sering membuat mata kita kabur dan tidak bisa lagi melihat dengan jelas tentang alasan keberadaan PMKT sebagai media (pelayanan) yang Tuhan pakai untuk memenangkan, memuridkan dan mempersiapkan mahasiswa Kristiani Teknik agar memiliki karakteristik yang cukup baik sebelum memasuki dunia alumni. Kenyamanan kita yang didukung dengan fasilitas yang memadai (apalagi kalau sudah ada rumah persekutuan 3 lantai) seringkali membuat kita tidak lagi kritis dalam menilai segala sesuatu sehingga apa yang kita lakukan menjadi tidak link dengan visi itu sendiri dan tidak lagi relevan dengan keadaan persekutuan pada saat ini.

Dua buah kalimat yang bisa menyimpulkan itu semua adalah: Yang pertama, Kita tidak tahu bagaimana caranya untuk berubah dan yang kedua Kita tahu caranya tapi tidak berani berubah. Berbeda tapi intinya sama, kita tidak akan pernah berubah, dan hasil akhirnya bisa ditebak, kita tidak akan banyak berkembang dibanding tahun-tahun sebelumnya, untung-untung kalau bisa menjaga kondisi yang sudah ada tetap baik, jangan-jangan kita akan semakin kehilangan arah dan akhirnya collapse!

Sudah 25 tahun lebih PMKT berdiri, dan sungguh kita boleh melihat bagaimana Tuhan senantiasa menyertai pelayanan ini sampai sekarang. Kadang kita diijinkan untuk mengalami hal-hal yang kurang baik terjadi, dalam satu periode, pelayanan bisa sangat maju, tapi dalam periode yang lain seperti terjadi degradasi. Tuhan memberikan kita akal budi untuk berpikir dengan bijak tentang bagaimana cara mengelola pelayanan ini dengan baik. Ia tidak dengan serta merta menuliskan rencanaNya bagi PMKT di atas sebuah kertas seperti Musa menerima dua loh batu tulisan Tuhan sebagai hukum bagi Bangsa Israel tapi kita senantiasa diajak untuk bergumul dan berdoa serta memohon hikmat dari Tuhan tentang apa yang harus kita lakukan dalam pelayanan ini. Hasil dari itu semua pergumulan itu akan terlihat dari apa yang kita rencanakan di awal tahun, bagaimana kita melakukannya sepanjang tahun, dan apa yang kita hasilkan di akhir tahun

Melewati 4 tahun pelayanan di PMKT, saya berani mengambil kesimpulan (dengan rasa malu) bahwa selama 4 tahun terakhir kita tidak banyak mengalami kemajuan yang berarti (tidak juga mundur), kita hanya jalan-jalan di tempat seperti halnya kereta mainan yang berputar-putar pada rel yang melingkar yang harus dilaluinya setiap periode waktu tertentu. Pertanyaannya, “Sampai kapan kita akan begini-begini terus?” Jawaban saya sederhana yaitu, sampai kita dengan tegas mengatakan kami mau berubah dengan tuntunan dan pertolongan Tuhan bagi kami! Namun perlu disadari bahwa perubahan juga punya sisi lain yang harus dihadapi yaitu resiko. Semakin besar perubahan yang dilakukan maka semakin besar tingkat keberhasilan yang mungkin diraih dan semakin besar pula resiko yang mungkin ditimbulkannya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Beranikah Saudara?”

Untuk adik-adik di PMKT : Tetap semangat dalam pelayanan. Gbu


05
Jan
09

Build Your Self to Build Others

Mungkin tidak ada seorang pun (of course orang dewasa) yang tidak mengerti dengan kata “membangun”. Mungkin kalau diadakan penelitian tentang hal ini (khususnya di Bumi Teknik yang suka meneliti) hasilnya bisa jadi NIHIL! Ya… kita pasti sering mendengar kata membangun. Orang tua kita membangun rumah untuk tempat tinggal, Developer membangun jalan raya pogung, Majelis Jemaat membangun gedung gereja, kita bangun di pagi hari (salah ya…). Namun dari kesemuanya itu, ada seringkali kita justru lupa dengan bangunan yang satu lagi, yang lebih penting dari pada bangunan-bangunan yang kita sebut di atas.

That’s it… your own self. Ya, diri kita sendiri adalah bangunan yang kerap kita lupakan. Firman Tuhan mengatakan tubuh kita adalah Bait Allah (I Kor 3:16-17). Untuk bisa menjadi bait yang indah, kita harus membangunnya sesuai dengan kehendak arsiteknya, yaitu Allah sendiri. Membangun diri sendiri dapat kita lakukan dengan setia dan taat kepada Tuhan terhadap segala kebenaran Firman Tuhan yang sudah kita dapatkan, so praktisnya, satu masukan-satu keluaran, satu Firman – satu tindakan untuk taat melakukannya. So… kita tidak menjadi orang yang hanya dipenuhi dengan Firman Tuhan saja, tapi juga menjadi orang yang penuh dengan Roh untuk melakukan segala kebenaranNya meskipun terkadang nggak keterima sama pikiran kita sendiri.

Trus gimana lagi dong setelah kita membangun diri kita?

Setelah kita dibangun dan tentunya tidak akan pernah berhenti dibangun sampai pada kekekalan, kita juga kudu membangun orang lain, karena sudah menjadi panggilan setiap orang Kristen untuk saling membangun dan menolong satu dengan yang lain (Kekristenan identik dengan hubungan-hubungan – Kekristenan Sejati, Paul G. Caram). Membangun diri sendiri sama dengan memperlengkapi diri kita untuk nantinya siap untuk membangun diri orang lain. Hidup kita yang sudah dibangunlah yang nantinya dapat kita pakai membangun diri orang lain yang Tuhan percayakan kepada kita sebagai murid Kristus atau praktisnya adik KTB (adik binaan) kita.

Konsep pemuridan yang ada dalam KTB pada dasarnya akan menjadi sangat sederhana kalau kita sudah memahami konsep dibagun dan membangun ini. Setiap kita yang adalah seorang kakak KTB atau mungkin adik KTB yang akan menjadi kakak KTB nantinya mesti memahami konsep yang satu ini. Hal ini menjadi sangat penting dan esensi karena kita nggak akan pernah bisa membangun diri orang lain kalau diri kita sendiri belum dibangun terlebih dahulu. Kita nggak akan pernah berhasil membangun bagian-bagian dari hidup orang lain kalau kita sendiri tidak tahu pada bagian-bagian mana dalam diri kita yang sudah atau sedang dalam pembangunan (pembentukan). Untuk itu kita harus selalu dibangun dan tahu pasti di bagian mana kita sudah dibangun dan di bagian mana yang lain kita belum dibangun sehingga kita tidak salah membangun adik-adik kita dengan apa yang belum dibangun dalam diri kita. So praktisnya, setiap firman yang sudah kita dapatkan (melalui PA, Saat Teduh, KTB, Persekutuan umum dan doa) harus benar-benar kita “hidupi” atau kita lakukan dalam hidup kita. Firman itu harus menjadi Rhema dan bukan sekedar Logos. Logos dapat kita pelajari dalam Alkitab tapi Rhema harus dikerjakan dan dihidupi.

Sehingga Firman yang kita hidupi itulah nantinya yang akan kita transfer ke dalam diri adik-adik KTB kita sehingga mereka bisa melihat kalau Firman itu juga berkuasa untuk mengubahkan hidup mereka seperti yang sudah terjadi dalam hidup kita secara pribadi.

Gimana jadinya kalau Firman itu tidak kita hidupi??

Kita akan menjadi seperti orang farisi yang mengetahui banyak kebenaran tapi tidak mengenalnya secara pribadi. Dan ketika kita berusaha untuk mengajarkannya kepada adik-adik kita yang terjadi bukannya dia dibagun tapi justru dia menjadi orang-orang “pintar” tentang Firman Allah dan terlena oleh janji-janji Allah tanpa pernah merasakannya. Dan kita nggak akan melihat pribadi yang dibangun dalam diri adik-adik kita, nggak ada perubahan dan pertumbuhan di dalam dirinya. Wow.. ngeri…!

So… what should we do now??

Tidak ada selain mulai membangun diri secara terus menerus dan berusaha menghidupi setiap Firman yang kita ketahui sambil terus memohon akan kasih karunia Allah yang mengubahkan hidup kita agar sesuai dengan kehendakNya. Mari kita sama-sama membangun diri kita untuk kemudian dapat membangun diri orang lain.

Build Our Selves To Build Others”.

Tuhan memberkati.

rzm…


note : Ditulis setelah pulang dari camp KTB Regional yang diadakan oleh Perkantas di Wisma Bina Dharma, Salatiga… sekitar 2004

05
Jan
09

Percaya Diri

Salah satu pergumulan terbesar tiap pribadi, siapapun itu adalah masalah kepercayaan diri, entah dia orang sukses maupun tidak masalah yang satu ini seringkali menghambat kinerja manusia pada umumnya. Dan cara menangulanginyalah yang akan membedakan orang sukses atau yang tidak sukses.

Mari lihat yang satu ini:

  1. Rumuskan dan tanamkan tanpa dapat dihapus kembali di dalam pikiran Anda suatu gambaran mental tentang diri Anda yang berhasil. Pertahankan gambar ini sekuat mungkin. Jangan pernah membiarkannya memudar. Pikiran Anda akan berusaha mengembangkan gambaran ini. jangan pernah memikirkan diri Anda sebagai orang yang gagal, jangan pernah meragukan realitas dari citar mental tersebut. Itulah yang paling berbahaya, karena pikiran akan selalu berusaha menggenapi apa yang digambarkannya. Jadi, selalu gambarkan keberhasilan tidak peduli betap buruknya segala sesuatunya terlihat dan terjadi pada saat itu.

  2. Setiap kali suatu pikiran negatif sehubungan dengan kekuatan pribadi Anda muncul dalam benak, nyatakan secara sengaja suatu pikiran positif untuk membatalkannya.

  3. Jangan dirikan rintangan di dalam imajinasi Anda. Jatuhkan semua apa yang disebut rintangan. Minimumkan rintangan tersebut. Kesulitan harus dipelajari dan ditangani secar efisien agar dapat dihilangkan, tetapi kesulitan tidak boleh dipandang sebagaimana adanya. Kesulitan tidak boleh dikembangkan oleh pikiran yang takut.

  4. Jangan terpesona oleh orang lain dan berusaha meniru mereka. Tak seorangpun dapat menjadi diri Anda seefisien yang dapat Anda lakukan. Ingat pula bahwa kebanyakan orang, walaupun tampak dan bertindak percaya diri, sering sama takutnya dengan Anda dan sama ragunya mengenai diri sendiri.

  5. Sepuluh kali sehari ulangi kata-kata yang dinamis ini: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Roma 8:31). Lakukan dan ucapkan kata-kata tersebut dengan penuh percaya.

  6. Dapatkan konselor yang kompeten untuk membantu Anda mengerti mengapa Anda berbuat sebagaimana yang Anda lakukan. Pelajari asala mula dan perasaan inferior dan keraguan diri Anda yang sering dimuali sejak masa kanak-kanak. Pengetahuan tentang diri sendiri menghasilkan kesembuhan.

  7. Sepuluh kali setiap hari latihlah penegasan berikut, ulangi sekeras mungkin. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Ulangi kata-kata itu sekarang. Pernyataan ajaib itu adalah obat penangkal paling mujarab untuk pikiran inferioritas.

  8. Tempatkan diri Anda di dalam tangan Tuhan. Untuk melakukannya Anda cukup mengatakan: “Saya berada di dalam tangan Tuhan.” Kemudian percayalah Anda SEKARANG menerima semua kekuatan yang Anda perlukan. “Rasakan” ini mengalir kedalam diri Anda. Tegaskan bahwa “Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” (Lukas 17:21) dalam bentuk kekuatan yang memadai guna memenuhi tuntutan hidup.

  9. Ingatkan diri Anda bahwa Tuhan berada bersama Anda dan tidak ada yang dapat mengalahkan Anda. Percaya bahwa Anda sekarang menerima kekuatan dariNya.

  10. Lakukan dan kamu akan berhasil! Ubah pola pikirmu dari sekarang dan Tuhan memberkatimu. Amin.

Disadur oleh: rzm_01

dari buku Berpikir Positif, Norman Vincent Peale, 1996

note : Tulisan ini dibuat pada bulan Maret 2005 ketika selesai membaca bukunya Norman Vincent Peale yang begitu hebat.

05
Jan
09

Menjadi Pendengar Yang Baik

Dalam kehidupan, kita sering melakukan komunikasi dalam bentuk dialog dengan orang lain, demikian juga halnya dalam konteks persekutuan sesama orang percaya. Dialog akan senantiasa melibatkan dua orang atau lebih dimana satu pihak akan disebut sebagai pembicara dan pihak lain sebagai pendengar. Manusia umumnya terbentuk untuk menjadi orang yang suka berbicara terutama sekali tentang dirinya sendiri sehingga kita seringkali alpha untuk mendengarkan orang lain dengan baik.

Seorang pendengar yang baik selalu berhasil jauh melampaui seorang pembicara yang baik dalam hal mendapatkan afeksi dari orang lain. Ini karena seorang pendengar yang baik selalu membiarkan orang untuk mendengarkan pembicara favorit mereka, yaitu diri mereka sendiri.

Ada lima aturan yang membuat Anda menjadi seorang pendengar yang baik

  1. Menatap orang yang sedang berbicara

Siapapun yang berharga untuk didengarkan, berharga untuk ditatap.

  1. Condongkan badan ke si pembicara dan dengarkan dengan penuh perhatian

Tampak seolah-olah Anda tidak mau kehilangan satu kata pun.

  1. Ajukan pertanyaan

Hal ini membuat orang yang sedang berbicara tahu bahwa Anda sedang mendengarkan. Mengajukan pertanyaan adalah bentuk sanjungan yang tinggi.

  1. Ikutilah topik si pembicara dan jangan memotong atau menyela

Jangan mengubah topic yang sedang diutarakan si pembicara sampai dia selesai, tak peduli betapa tak sabarnya Anda untuk segera beralih ke topik baru.

  1. Gunakan kata-kata si pembicara – “Anda” dan “milik Anda”

Jiak Anda menggunakan “Saya, aku, milikku”, Anda memindahkan focus dari si pembicara ke diri Anda. Itu adalah berbicara, bukan mendengarkan.

Disadur dari buku “Skill With People”, Les Giblin, 2004

note : bukunya les giblin ini bagus untuk dibaca, kecil tapi cukup padat isinya.

05
Jan
09

Free Will

Apa itu kehendak bebas?

Kehendak bebas (Free will) adalah suatu karunia yang Tuhan berikan pada setiap manusia untuk memikirkan, memutuskan dan melakukan sesuatu hal dengan sendiri. Hal itu berarti semua manusia berhak untuk memutuskan apa saja yang ia anggap baik untuk dilakukan. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang bermoral dengan kemampuan untuk memilih secara bebas, untuk mengasihi dan menaati Sang Pencipta atau untuk memberontak kepadaNya.

Pertanyaannya, apakah itu sesuai dengan kehendak Tuhan atau bukan?

Tidak ada kata NETRAL dalam kamus orang Kristen!!!!

Sesuatu yang tidak berasal dari Allah, berasal dari dunia (iblis).

Asal mula

  • Berawal dari penciptaan (Kej 1:28-29; Kej 2:16-17)

  • Allah memberikan bumi dan se gala isinya bagi manusia (Kej 1:29; Maz 115:16; Kej 9:3; Ul 12:15)

  • Allah mengharapkan agar manusia mengabdikan segala sesuatu di bumi kepadaNya dan mengelolanya untuk memuliakan Allah, sambil memenuhi maksud Ilahi (Maz 8:7-9; Kej 1:28)

Mengapa ada kehendak bebas?

  • Karena manusia berbeda dari ciptaan yang lainnya, manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej 1:26-27)

Segambar dan serupa berarti:

    • Manusia memiliki keserupaan moral dengan Allah.

Di dalam manusia, terdapat sifat-sifat keAllahan (Hikmat, kasih dan kehendak untuk melakukan apa yang benar – Ef 4:24)

    • Manusia memiliki keserupaan alamiah dengan Allah

Adam dan Hawa diciptakan sebagai makhluk yang memiliki Roh, pikiran, perasaan, kesadaran diri, dan kuasa untuk memilih (Kej 2:19-20; 3:6-7; 9:6)

  • Karena manusia diciptakan sempurna dan sungguh amat baik (Kej 1:31)

Sempurna berarti tanpa kekurangan suatu apapun. Memang pada dasarnya manusia diciptakan lebih rendah dan tergantung kepada Allah (Maz 8:6). Kesempurnaan yang dimiliki manusia meliputi hampir seluruh aspek kehidupan moral termasuk kebebasan untuk menentukan kehendak.

  • Karena manusia sudah dimerdekakan oleh Kristus dan beroleh kasih karunia (Gal 5:4)

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, gambar Allah yang sempurna menjadi rusak dan kehilangan kemuliaan Allah (Rom 3:23)

Merdeka berarti tidak terbelenggu oleh kuasa dosa (Rom 3:9) dan kewajiban-kewajiban spiritual untuk melakukan hukum Taurat, karena tidak seorangpun dibenarkan karena melakukan hokum Taurat (Rom 3:19-20; Ef 2:8-9; Rom 3:24)

Kehendak bebas, BAIK atau TIDAK?

Tidak ada keraguan untuk mengatakan bahwa kehendak bebas pemberian Allah adalah BAIK bagi manusia. Karena segala sesuatu yang berasal dari Allah BAIK adanya (Yak 1:17; Mat 7:11) dan tergantung bagaimana kita bisa menggunakan kehendak bebas tersebut dengan BAIK dan BENAR. ( Lihat Pkh 11:9-10)

So… bagaimana caranya menggunakan kehendak bebas?

  1. Gunakan dengan takut akan Tuhan (Pkh 12:13-14)

Takut akan Tuhan bukan berarti ketakutan akan Tuhan. Takut akan Tuhan berarti kita sadar bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang harus memancarkan kebesaran dan kemuliaan Sang Pencipta dan sadar akan adanya penghakiman yang akan mengadili semua umat manusia untuk segala perbuatan baik maupun jahat (2 Kor 5:10; Rom 14:10,12)

  1. Gunakan dengan pimpinan Roh Kudus (Rom 8:1-17) dan selaraskan sesuai dengan Firman Tuhan (Maz 119:9)

Hal ini berarti hidup kita harus dipimpin oleh Roh dan bukan oleh keinginan-keinginan daging kita (Gal 6:8)

Keinginan daging (Gal 5:19-20) >< Keinginan Roh (Gal 5:22).

Hati dan pikiran yang dipenuhi Firman Tuhan akan mempengaruhi setiap kehendak manusia

  1. Gunakan dengan bertanggungjawab (Gal 5:13; I Pet 2:16-17)

Siapa yang bersahabat dengan dunia (melakukan apa yang dunia lakukan), menjadikan dirinya musuh Allah (Yak 4:4) dan semuanya itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak (Rom 14:12)

  1. Gunakan untuk kemuliaan Allah (I Kor 10:31; Kol 3:23)

Manusia seringkali jatuh ke dalam dosa karena tidak sadar akan keberadaan Allah yang akan menuntut balas setiap perbuatan manusia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing (Kel 34:7; I Raj 8:39; Yeh 7:4; Wah 2:23; Wah 22:12)

Menggunakan kehendak bebas untuk kemuliaan Allah berarti kita ada pada suatu kesadaran bahwa apa yang sedang dan akan kita lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan. (I Yoh 2:15-17)

  1. Pikirkan, baru lakukan!!

Peran Allah (Fil 2:13)

Dalam kenyataan hidup sehari-hari, manusia tidak sendiri dalam melakukan kehendaknya. Setiap orang percaya dikaruniakan Roh Kudus (Ef 1:13-14) yang akan menuntun orang tersebut dalam segala kebenaran Firman Tuhan dan yang menjadi jaminan (materai) di bumi. Hal itu berarti Allah tidak pernah lepas kendali dalam kehidupan orang percaya juga dalam melakukan kehendak bebasnya. Selalu ada penyertaan Roh Kudus di dalamnya yang akan mengingatkan dan menuntun kita untuk melakukan sesuatu yang benar di mata Tuhan dan tidak mengikuti kedagingan kita sendiri. Suara Allah (Roh Kudus) yang seringkali berupa bisikan hati kecil yang sudah diperbaharui oleh penebusan darah Kristus, akan senantiasa terngiang dalam hati kita sesuai dengan fungsinya. Namun seringkali manusia lebih memilih untuk tidak mendengarkannya tetapi justru melakukan apa yang menjadi keinginan daging semata (Perbuatan dosa).

At Last…

Ketika kita diselamatkan, kita menggunakan tubuh kita untuk melayani Tuhan karena apa yang Dia telah kerjakan bagi kita. Tuhan telah menjadikan kita anak-anak-Nya dan Dia telah memberikan hidup yang kekal bagi kita. Dia telah menyelamatkan kita dari api neraka, dan kita sudah menjadi milik-Nya. Kerinduan kita adalah bukan untuk memuaskan nafsu kedagingan kita sendiri (menggunakan kehendak bebas dengan tidak bertangungjawab) tetapi untuk memenuhi perintah-perintah-Nya.

Referensi:

Alkitab penuntun hidup berkelimpahan, LAI, 2002: Malang

www.familyradio.com; www.pondokrenunangan.com

RZM, Persekutuan Doa PMKT, Selasa, 7 September 200

note : Ditulis di sebuah kost-kostan kecil di sekitar pogung, dibawakan untuk acara Persekutuan Doa di PMKT. This is my very first experience to be a speaker.