(Sebuah perenungan selama 4 tahun pelayanan di PMKT)
preview : artikel ini kutulis sekitar April 2006, beberapa bulan setelah menyelesaikan 4 tahun pelayanan yang penuh cerita. Harus diakui setelah kubaca-baca lagi, aku rada-rada ngeri juga melihat beberapa paragraf yg cukup tajam mengkoreksi beberapa aktifitas yg “lumrah” dilakukan pengurus-pengurus. ehm.. pada akhirnya ini hanya sekedar opini belaka
Dalam banyak kesempatan, saya sudah melihat banyak kejadian-kejadian yang menarik seputar persekutuan ini. Dimulai dari kisah pertemuan awal saya dengan PMKT dalam sebuah persekutuan umum sampai saat ini ketika saya mengakhiri masa pelayanan saya yang cukup panjang. Dalam rentang waktu tersebut saya mendapati bahwa PMKT senantiasa rindu untuk bertumbuh dan mengusahakan pertumbuhan bagi setiap orang yang bergelut di dalamnya.
Dalam hal ini, saya hanya akan meninjau tentang visi persekutuan yang imbasnya nanti akan mencakup pada keseluruhan dari apa yang selama ini dilakukan PMKT dalam pelayanannya.
Visi yang baik adalah suatu bentuk visi yang tidak mistis dan jauh di atas awang-awang sehingga tidak lagi bisa diinterpretasikan secara jelas bentuk konkretnya. Sebuah visi harus dapat diterjemahkan ke dalam bentuk strategi-strategi praktis dalam upaya pencapaiannya.
Visi PMKT adalah “Memenangkan, membina dan mempersiapkan mahasiswa kristiani teknik UGM agar menjadi sarjana-sarjana bagi Gereja, Bangsa dan Negara sesuai dengan profesi keteknikan” Sebuah pernyataan visi yang sederhana namun mengandung sarat makna teologis dan sangat menantang untuk terus-menerus dikerjakan setiap saat oleh PMKT. Visi bersama ini sudah dianut selama kurang lebih 25 tahun berdirinya PMKT dan sampai saat ini masih dianggap sangat relevan meski zaman senantiasa berubah setiap detiknya, sehingga kalau ditanya tentang relevansi antara visi PMKT dengan kondisi actual yang dihadapi sekarang atau yang mungkin (terbayang) akan terjadi ke depan, maka saya akan dengan tegas mengatakan bahwa visi PMKT masih sangat up to date dan tidak basi atau ketinggalan zaman untuk tetap diupayakan kelestariannya.
Masalah yang terjadi bukan terletak pada pernyataan visi tetapi pada cara interpretasi (gambaran masa depannya) dan penerjemahan visi tersebut ke dalam bentuk rencana-rencana strategis yang real.
Kalau kita selidiki lebih lanjut, seringkali kita berhenti pada pernyataan “memenangkan, membina dan mempersiapkan” dari visi PMKT dan kurang memperhatikan phrase “sarjana bagi Gereja, Bangsa dan Negara sesuai dengan profesi keteknikan”. Tiga kata pertama dalam visi PMKT menjelaskan tentang apa yang harus dikerjakan, dan frase selanjutnya menjelaskan bentuk real dari kondisi ideal dari pencapaian visi tersebut yang menjadi gambaran dari keberhasilan PMKT dalam mengerjakan visinya. Jadi, inti dari pernyataan visi itu sendiri terdapat pada frase “sarjana-sarjana bagi Gereja, Bangsa dan Negara sesuai dengan profesi keteknikan” tentunya dengan tidak mengabaikan tiga kata “memenangkan, membina dan mempersiapkan” sebagai bagian yang harus dikerjakan dalam upaya pencapaian visi tersebut.
Kalau frase terakhir menjadi sasaran yang hendak dicapai, pertanyaan yang harus dijawab adalah profil sarjana (alumni) yang bagaimanakah yang akan dihasilkan oleh pelayanan PMKT sehingga gambaran visi tersebut menjadi semakin jelas dan mudah dipahami? Saya berupaya merumuskan beberapa karakteristik sarjana/alumni (dengan bantuan beberapa sumber) yang menjadi sasaran dari visi PMKT sebagai berikut:
-
Aspek Spiritual/Iman Kristiani
-
Kerohanian yang baik (pemahaman terhadap iman Kristen, personal spiritual life, fellowship spiritual life)
-
Hati yang melayani (mengabdi) sesuai dengan profesi dan lingkungannya
-
Pribadi yang dewasa rohani dalam pemecahan masalah-masalah keluarga, profesi dan masyarakat (growing nature)
-
Resource bagi pelayanan Gereja dan pelayanan Kristen lainnya (pemimpin yang trainable, pembina, pengajar, aktivis, penggerak, narasumber, fasilitator, networking)
-
Aspek Mental/Intelektual
-
Memiliki pengetahuan yang luas terhadap berbagai isu dan tantangan di lingkungan Gereja, masyarakat, profesi, Bangsa bahkan dunia
-
Memiliki “vision” dalam kehidupan pribadi, keluarga dan pelayanan
-
Memiliki pemikiran yang kritis terhadap berbagai isu yang dihadapi di dunia alumni
-
Alumni yang selalu belajar dan mengembangkan diri dalam berbagai aspek
-
Alumni yang mampu mengembangkan kerjasama dan memiliki kemapuan relasional yang baik
-
Aspek Karakter/Etos Kerja
-
memiliki integritas dalm keluarga, profesi, Gereja dan masyarakat
-
Memiliki kepribadian yang tangguh (tahan terhadap masalah, ideology, paham yang mengancam kehidupannya)
-
Memiliki etos kerja yang baik (kerja keras, pengabdian, norma, moral, etika) dalam berbagai profesi di masyarakat
-
Memiliki karakter yang “kuat” dan “mempengaruhi” bukan “dipengaruhi” dan “menjadi pengikut”.
-
Memiliki cara berpikir yang kritis dan etikal dalam menyelesaika berbagai persoalan
-
Keterlibatan Sosial
-
Memiliki kepekaan terhadap kondisi masyarakat, Bangsa dan Negara
-
Menjadi bagian dalam pemecahan masalah Bangsa (kemiskinan, keadilan, moral etika, kesejahteraan, dll)
-
Alumni terlibat dalam pemecahan masalah social dengan menjadi : pemikir, penulis, penggerak ide, komunikator, katalisator, negosiator, networking (melalui profesi, lembaga pelayanan, lembaga swadaya masyarakat, institusi Negara) baik di lingkungan local maupun nasional
-
Alumni menjadi pelopor dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan memiliki wawasan kesatuan Bangsa.
Dengan berbagai atribut di atas, dapat dimengerti bahwa visi PMKT merupakan salah satu bentuk visi yang sangat luas maknanya dan sangat menantang untuk dicapai oleh setiap individu yang terlibat dalam pelayanan ini. Ditambah lagi visi tersebut merupakan pengejawantahan secara praktis dari amanat agung Tuhan Yesus yang ada di Matius 28:19-20. jadi, kalau berbicara tentang visinya, sudah sepatutnya kita berbangga hati dengan visi yang ada sampai saat ini karena nila-nilai yang dikandung di dalamnya bersifat kekal.
Seperti yang saya sebutkan di atas, masalahnya bukan terletak pada pernyataan visinya tetapi pada interpretasi terhadap visi tersebut dan penerjemahannya ke dalam bentuk strategi-strategi praktis yang mungkin kurang tepat. Ketidaktepatan dalam penyusunan strategi ini mengakibatkan banyak sekali tenaga dan resource yang terbuang “percuma” untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu esensial dan kena-mengena dengan visi presekutuan. Terkadang agak sulit membedakan mana yang baik dan mana yang benar-benar perlu untuk dikerjakan karena kalau ditinjau lebih lanjut apa yang dilakukan pengurus PMKT selama ini pada dasarnya baik namun menurut saya tidak semuanya perlu untuk dilakukan karena memang kurang tepat pada sasaran yang dikehendaki menurut visi. Satu kata yang penting disini adalah “prioritas” yang bisa diartikan mendahulukan sesuatu dibandingkan dengan yang lain sesuai dengan kadar kepentingan dan urgensinya. Dengan kata lain, kita bisa melakukan semuanya tapi dengan penempatan prioritas yang benar, tidak asal melakukan dan yang penting selesai.
Sebagai contoh, mari kita lihat dua kegiatan rutin yang dilakukan di PMKT, yaitu pendanaan (berupa bazaar, jualan pakaian) dan kunjungan kasih. Ditinjau dari segi keterkaitannya dengan visi PMKT, maka dengan bulat saya mengatakan kunjungan kasih harus mendapat prioritas yang lebih banyak dibandingkan dengan pendanaan sehingga alokasi waktu dan sumberdaya seharusnya diprioritaskan untuk melaksanakan kegiatan kunjungan kasih ke kost-kostan. Apakah pendanaan penting? Ya, tentu saja pendanaan penting, karena pelayanan juga membutuhkan uang, tapi dalam hal ini, kegiatan pendanaan harus mendapat prioritas berikutnya setelah kunjungan, atau dengan kata lain, kita bisa saja membatalkan kegiatan pendanaan untuk suatu hari tertentu karena ada kegiatan kunjungan yang mungkin melibatkan orang-orang yang sama. Jadi darimana dana buat kegiatan persekutuan kalau pendanaan dicancel? Ya.. tentunya kita harus bisa bersikap bijak dan mencoba untuk mengatur jadwal sedemikian rupa sehingga semuanya bisa dikelola dengan baik. Dalam hal ini kesadaran pengurus untuk berdisiplin dalam memberikan persembahan iman dan dukungan alumni sangat erat kaitannya, karena kalau kedua hal di atas bisa berjalan seimbang, niscaya pelayanan ini tidak akan berkekurangan.
Solusi di atas, yaitu mengatur semua kegiatan sedemikian rupa sehingga bisa dikerjakan dengan baik ternyata juga tidak menyelesaikan persoalan. Harus diakui bahwa aktifitas pengurus di PMKT sudah sangat banyak, terlebih lagi buat pengurus-pengurus senior (KSB, KPPA, Kombin) dan coordinator komisi yang sepertinya tiada hari tanpa kegiatan di secretariat. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah rapat-rapat yang melibatkan pengurus (senior) yang sungguh sangat banyak! Saya pernah menghitung untuk satu orang KPPA yang harus mengikuti rapat koordinatorium, rapat komisi, rapat pendampingan, rapat regenerasi, rapat pendampingan panitia (bila perlu) jumlahnya bisa kurang lebih 100 kali rapat untuk satu tahun pelayanan! Setiap kali rapat biasanya memakan waktu 2 jam, sehingga kalau dikalikan waktu yang digunakan seorang anggota KPPA hanya untuk rapat sekitar 200 jam tiap tahunnya. Hal ini belum ditambah kegiatan-kegiatan lain seperti, kunjungan, PU dan PD, pelaksanaan program, pendanaan, dan yang terutama KTB besar dan kecil masing-masing. Luar biasa!
Saya percaya bahwa semua kegiatan di atas bisa dilakukan, tentunya dengan komitmen yang tidak setengah-setengah dan militansi serta semangat pelayanan yang penuh, pasti bisa. Hanya saja kalau direnungkan lebih lanjut, waktu-waktu yang “terbuang” buat rapat menjadi agak kurang berguna (tetap ada gunanya) dan apabila waktu tersebut bisa dialokasikan pada kegiatan yang sifatnya lebih membangun spritualitas dan mentalitas para pengurus sehingga mampu mempersiapkan para pengurus yang juga calon-calon alumni dengan bekal yang baik, maka nilai yang didapat dari 200 jam tersebut bisa sangat berbeda hasilnya.
Selain prioritas yang benar, kata yang tepat untuk mengatasi masalah yang terkait dengan visi ini adalah “focus”. Intinya adalah bagaimana para pengurus bisa mengarahkan semua kegiatan dan program persekutuan untuk mencapai visi persekutuan. Jika semua kegiatan bisa difokuskan pada arah yang benar, niscaya akan terjadi perubahan yang baik dalam persekutuan kita. Tantangannya adalah, ketika kita hendak menetapkan focus, di sekitar kita ada begitu banyak “tawaran” menarik yang sayang kalau ditinggalkan. Terkadang tawaran-tawaran tersebut menjadi lebih menarik dibandingkan dengan satu atau dua hal yang hendak difokuskan, sehingga semakin tawaran tersebut dipertimbangkan (karena memang baik), maka dengan sengaja kita pun berkata “Ah… bagaimana kalau hal ini kita lakukan saja, kan ga ada ruginya, justru akan menambah keberhasilan program komisi x”. Ketika hal ini terjadi, bisa dikatakan kita gagal dalam menjaga focus kita dan akhirnya pada saat evaluasi kita mendapati bahwa kita sudah melakukan banyak hal tapi kok sepertinya ga ada kemajuan dalam persekutuan kita?? Whats wrong?
Supaya mudah dicerna, saya hendak memberikan contoh (maaf kalau agak menyindir beberapa bidang di persekutuan kita) seperti ini. Katakanlah untuk periode tertentu, focus dan prioritas pelayanan PMKT adalah Pembinaan Kelompok Kecil (KTB), kemudian pengurus (rapat koordinatorium) mulai melakukan penyusunan program kerja satu tahun seperti biasanya. Di awal rapat semua sepakat bahwa focus pelayanan kita tahun ini adalah pembinaan kelompok kecil sehingga semua program tiap komisi akan diarahkan untuk mendukung pembinaan kelompok kecil ini. Ketika dilakukan brain storming, banyak pendapat yang muncul. KPU mengusulkan perlu mengadakan training MC karena kualitas MC sudah menurun, Tim Musik menawarkan training VG dan group musik yang akan latihan sekali seminggu untuk meningkatkan skill pemusik, dengan embel-embel sapa tahu juga bisa menjangkau teman-teman yang “alergi” dengan PU/PD. Kemudian muncul Komtek dengan usulan pemantapan kegiatan keteknikan dan aplikasi kegiatan keluar dan untuk yang satu ini harus didukung penuh oleh semua pengurus, baik dari segi waktu dan partisipasi pengurus, belum selesai, Kompuskom pengen membuat ST yang “lux” juga pengadaan seminar jurnalistik, Tim Dana butuh orang tiap minggu buat jualan dan bazaar, KPPA dianggap perlu melakukan penelitian kondisi, trus merancang system manajemen yang baru, dll. Selesai? Belum, ada berita dari KSB bahwa PMKT dapat undangan untuk ikut terlibat dalam kegiatan seminar besar oleh PMK(X), kalau bisa ikut berpartisipasilah pengurusnya. Ketika satu persatu program dibicarakan, semua pengurus menganggap bahwa semua usulan tersebut baik kalau dilaksanakan (dan pada dasarnya memang baik) dan akhirnya disepakati kita melakukan semuanya. Di awal semua sepakat dengan satu focus, di akhir rapat focus yang semula ada menjadi bias dengan banyak hal yang “baik” tersebut. Pengurus melakukan semuanya sepanjang satu tahun dan ketika evaluasi akhir kita pun menyadari kok sepertinya selama satu tahun ini tidak ada kemajuan berarti yang bisa kita capai, pembinaan tidak semakin baik, MC dan pemusik gitu-gitu aja, ST dan perpus juga biasa-biasa saja, kegiatan keteknikan juga ga mantap-mantap, ada system manajemen yang baru tapi juga ga efektif, dilakukan penelitian tapi kok kondisi mahasiswa Kristen begitu-begitu saja, ga ada yang berubah. Dengan kata lain kita berada pada titik stagnan, atau dengan bahasa yang lebih kasar sebenarnya kita tidak melakukan apa-apa yang sungguh berarti selama setahun.
Ada sebuah frase yang mengatakan “Jika seseorang tidak tahu kemana ia akan pergi, ia tidak akan kemana-mana”. Dengan kata lain, kalau kita tidak bisa memfokuskan pelayanan kita pada satu titik yang hendak kita tuju, pada dasarnya kita ga akan kemana-mana pada akhirnya. Tawaran-tawaran di sekitar kita memang sangat sayang kalau ditinggalkan, tapi kalau kita sudah commit dengan apa yang sudah kita prioritaskan, ada kalanya kita perlu menutup kedua belah mata kita pada tawaran-tawaran tersebut sehingga kita tidak terpengaruh untuk mulai memikirkan kemudian mempertimbangkan dan melakukannya.
Kita tahu bahwa pelayanan kita sudah diatur dalam pola yang sangat baik dengan GBHP sebagai penuntunnya. GBHP dengan sangat lugas menjelaskan tatanan-tatanan yang secara tradisional sudah berlaku sejak tahun 80an, demikian juga dengan target-target pelayanan selama 5 tahun sampai 2010. GBHP yang sekarang kita gunakan adalah produk tahun 2004-2005 yang dipikirkan oleh 30an orang pengurus PMKT ditambah Alm. Kak Obus dan dengan waktu yang sangat panjang (ditambah Raker 2 hari 1 malam di Kaliurang). Semua yang tertulis di GBHP beserta target-target jangka panjang untuk tiap tahunnya sudah dipikirkan dengan serius dan matang oleh peserta Raker, dan sudah diputuskan bahwa itulah sasaran pelayanan PMKT untuk 5 tahun ke depan.
Dengan produk GBHP yang sedemikian “bagus” itu, satu pertanyaan yang perlu kita ajukan adalah, “Apakah kita perlu mengutak-atik isi GBHP lagi?” Harus diakui bahwa inilah pertanyaan terberat yang harus dijawab oleh semua pengurus saat ini. Kalau sudah seperti ini, maka akan terdapat dua ekstrim dengan dua jawaban berbeda, kubu yang satu mengatakan, “Karena GBHP sudah dipikirkan dengan matang-matang, ngapain lagi sih kita coba-coba untuk mengubahnya?”. Kubu yang kedua mengatakan “Why not? GBHP kan bukan Alkitab yang mutlak harus dilakukan”! Bagaimana dengan pendapat Saudara sendiri?
Kenyataan yang terjadi selama ini bisa digambarkan sebagai berikut, setelah pengurus inti rembug dan berdikusi demikian lama, akhirnya lagi-lagi (dan lagi-lagi) kita harus mengakui keunggulan status quo sehingga kita pun tetap mengikuti pola yang sudah ada meskipun ada hal-hal yang mungkin tidak atau kurang relevan lagi untuk tetap dilaksanakan.
Saya menyadari bahwa dengan pola yang sudah begitu baik dan rapi yang biasa kita lakukan di PMKT selama ini (dan entah sampai kapan) membuat kita tidak lagi aware dengan realita yang terjadi dalam persekutuan. Kemapanan kita yang dibungkus dengan system manajemen dan organisasi yang sangat kuat sering membuat mata kita kabur dan tidak bisa lagi melihat dengan jelas tentang alasan keberadaan PMKT sebagai media (pelayanan) yang Tuhan pakai untuk memenangkan, memuridkan dan mempersiapkan mahasiswa Kristiani Teknik agar memiliki karakteristik yang cukup baik sebelum memasuki dunia alumni. Kenyamanan kita yang didukung dengan fasilitas yang memadai (apalagi kalau sudah ada rumah persekutuan 3 lantai) seringkali membuat kita tidak lagi kritis dalam menilai segala sesuatu sehingga apa yang kita lakukan menjadi tidak link dengan visi itu sendiri dan tidak lagi relevan dengan keadaan persekutuan pada saat ini.
Dua buah kalimat yang bisa menyimpulkan itu semua adalah: Yang pertama, Kita tidak tahu bagaimana caranya untuk berubah dan yang kedua Kita tahu caranya tapi tidak berani berubah. Berbeda tapi intinya sama, kita tidak akan pernah berubah, dan hasil akhirnya bisa ditebak, kita tidak akan banyak berkembang dibanding tahun-tahun sebelumnya, untung-untung kalau bisa menjaga kondisi yang sudah ada tetap baik, jangan-jangan kita akan semakin kehilangan arah dan akhirnya collapse!
Sudah 25 tahun lebih PMKT berdiri, dan sungguh kita boleh melihat bagaimana Tuhan senantiasa menyertai pelayanan ini sampai sekarang. Kadang kita diijinkan untuk mengalami hal-hal yang kurang baik terjadi, dalam satu periode, pelayanan bisa sangat maju, tapi dalam periode yang lain seperti terjadi degradasi. Tuhan memberikan kita akal budi untuk berpikir dengan bijak tentang bagaimana cara mengelola pelayanan ini dengan baik. Ia tidak dengan serta merta menuliskan rencanaNya bagi PMKT di atas sebuah kertas seperti Musa menerima dua loh batu tulisan Tuhan sebagai hukum bagi Bangsa Israel tapi kita senantiasa diajak untuk bergumul dan berdoa serta memohon hikmat dari Tuhan tentang apa yang harus kita lakukan dalam pelayanan ini. Hasil dari itu semua pergumulan itu akan terlihat dari apa yang kita rencanakan di awal tahun, bagaimana kita melakukannya sepanjang tahun, dan apa yang kita hasilkan di akhir tahun
Melewati 4 tahun pelayanan di PMKT, saya berani mengambil kesimpulan (dengan rasa malu) bahwa selama 4 tahun terakhir kita tidak banyak mengalami kemajuan yang berarti (tidak juga mundur), kita hanya jalan-jalan di tempat seperti halnya kereta mainan yang berputar-putar pada rel yang melingkar yang harus dilaluinya setiap periode waktu tertentu. Pertanyaannya, “Sampai kapan kita akan begini-begini terus?” Jawaban saya sederhana yaitu, sampai kita dengan tegas mengatakan kami mau berubah dengan tuntunan dan pertolongan Tuhan bagi kami! Namun perlu disadari bahwa perubahan juga punya sisi lain yang harus dihadapi yaitu resiko. Semakin besar perubahan yang dilakukan maka semakin besar tingkat keberhasilan yang mungkin diraih dan semakin besar pula resiko yang mungkin ditimbulkannya.
Pertanyaan selanjutnya adalah, “Beranikah Saudara?”
Untuk adik-adik di PMKT : Tetap semangat dalam pelayanan. Gbu